Mahasiswa Bisa Lulus Tanpa Skripsi, Begini Tanggapan Dekan FISIP Untad


Palu - Mendikbudristek Nadiem Makarim, telah resmi mengeluarkan kebijakan mengenai mahasiswa S1 yang bisa lulus tanpa skripsi. Sebagaimana Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) No 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi mengenai bentuk tugas akhir yang menjadi syarat kelulusan. Hal tersebut menimbulkan beragam tanggapan dari para pimpinan universitas se-Indonesia, salah satunya dari Universitas Tadulako.

 

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako, Prof. Dr. Muhammad Khairil, M.Si, M.H menjelaskan bahwa belum ada putusan resmi mengenai kebijakan tersebut.

“Oleh kebijakan rektor, memang belum ada secara detail teknis dan dikembalikan ke masing-masing program studi,” tutur Muhammad Khairil saat ditemui di Dekanat FISIP Untad, Palu, Selasa (17/10/2023).

Wawancara bersama Dekan Fakultas Fisip Prof. Muhammad Khairil.

Foto : Ivan Nugraha Mokodompit

 

Khairil juga menjelaskan alternatif selain skripsi yang dapat ditempuh mahasiswa FISIP dalam menyelesaikan studi. “Selain skripsi, sebetulnya sudah ada karya ilmiah yang bisa mengantikan. Di antaranya, bisa dalam bentuk jurnal yang dipublikasikan. Apakah jurnal tersebut terakreditasi nasional atau jurnal internasional. Ada asumsi terkait bahwa yang memungkinkan itu yang sudah di atas lima tahun untuk menyelesaikan masa studinya dan dianggap sulit menyelesaikan studinya jika melalui jalur skripsi, maka dibuka jalur non skripsi,” ujarnya.

 

Meski demikian, Khairil juga menegaskan bahwa hal ini masih terus ditinjau kembali di tingkat universitas “Hal ini sebetulnya masih dalam godokan di tingkat universitas dan menunggu hasil itu ke fakultas. Prinsipnya akan ada payung yang lebih besar dan teknis mengenai seperti apa peluang-peluang alternatif skripsi dan non skripsi ke depannya. Hampir semua program studi di FISIP merespons positif. Cuma memang secara teknis ini yang mungkin berbeda karena pernyataannya diserahkan ke masing-masing program studi,” tambahnya.

 

Selain Dekan FISIP Untad, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako turut memberikan tanggapannya mengenai mahasiswa yang dapat lulus tanpa skripsi. “Tanggapanku itu sebenarnya bagus, karena lebih memudahkan mahasiswa. Kan kita tahu sendiri mahasiswa ini sekarang mereka hanya mengerjakan apa yang mereka sukai,” ujar Dimas WidyatMoko. Untad, Palu, Rabu (18/10/2023).

 

Kemudian, Dimas juga mengungkap kebingungan mahasiswa terhadap metode yang dilakukan, sehingga dengan adanya kebijakan ini, lebih memudahkan penyelesaian studi mahasiswa “Banyak mahasiswa yang kurang paham seperti apa metode yang mereka lakukan. Kemudian tahapan-tahapan seperti apa? Mencari judul seperti apa? Munculnya program ini saya rasa bagus dan lebih memudahkan mahasiswa sih sebenarnya,”

 

Dimas juga mengatakan bagaimana peran konsentrasi dalam tiap program studi berperan dalam sebuah projek atau karya nantinya “Sebenarnya kembali lagi ke semua Jurusan keilmuan nya ? Kalau kita lihat ilmu komunikasi sendiri itu kan ada Broadcasting, Public Relation, dan Jurnalistik. saya rasa konsentrasi yang ada di komunikasi seperti broadcasting mungkin untuk pengantinya bisa dalam bentuk karya film misalnya


Namun, secara pribadi, Dimas belum memahami seperti apa penerapan pengerjaan karya pada beberapa konsentrasi nantinya. “Sedangkan untuk public relation sendiri ini secara spesifik saya belum terlalu paham seperti apa? Jika ini diterapkan di konsentrasi public relation gitu, Apakah dia akan berperan sebagai humas di salah satu perusahaan lalu menyelesaikan suatu permasalahan dengan jangka waktu tertentu misalnya atau kemudian jurnalistik membuat majalah misalnya dalam bentuk foto jurnalistik”

 

Dimas juga mengungkapkan tanggapan nya mengenai efisiensi waktu yang dibutuhkan antara skripsi dan karya “Sebenaranya jika dibandingkan rentang waktu pengerjaan skripsi dan pembuatan karya. Jujur pembuatan karya itu lebih sulit dibanding skripsi. Terlepas dari masing - masing pribadi yang mengeksekusi nya. Namun, pembuatan karya tidak hanya menghasilkan karya, kita juga harus riset, perencanaan, brainstorming, dan bahkan ada evaluasi juga kadang – kadang, kita berfokus mengejar hasil yang maksimal bukan sekedar jadi saja” tambahnya.


Selain Dekan FISIP Untad, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako turut memberikan tanggapannya mengenai mahasiswa yang dapat lulus tanpa skripsi. “Tanggapanku itu sebenarnya bagus, karena lebih memudahkan mahasiswa. Kan kita tahu sendiri mahasiswa ini sekarang mereka hanya mengerjakan apa yang mereka sukai,” ujar Dimas WidyatMoko. Untad, Palu, Rabu (18/10/2023).


Kemudian, Dimas juga mengungkap kebingungan mahasiswa terhadap metode yang dilakukan, sehingga dengan adanya kebijakan ini, lebih memudahkan penyelesaian studi mahasiswa “Banyak mahasiswa yang kurang paham seperti apa metode yang mereka lakukan. Kemudian tahapan-tahapan seperti apa? Mencari judul seperti apa? Munculnya program ini saya rasa bagus dan lebih memudahkan mahasiswa sih sebenarnya,”


Dimas juga mengatakan bagaimana peran konsentrasi dalam tiap program studi berperan dalam sebuah projek atau karya nantinya “Sebenarnya kembali lagi ke semua Jurusan keilmuan nya ? Kalau kita lihat ilmu komunikasi sendiri itu kan ada Broadcasting, Public Relation, dan Jurnalistik. saya rasa konsentrasi yang ada di komunikasi seperti broadcasting mungkin untuk pengantinya bisa dalam bentuk karya film misalnya”


 Namun, secara pribadi, Dimas belum memahami seperti apa penerapan pengerjaan karya pada beberapa konsentrasi nantinya. “Sedangkan untuk public relation sendiri ini secara spesifik saya belum terlalu paham seperti apa? Jika ini diterapkan di konsentrasi public relation gitu, Apakah dia akan berperan sebagai humas di salah satu perusahaan lalu menyelesaikan suatu permasalahan dengan jangka waktu tertentu misalnya atau kemudian jurnalistik membuat majalah misalnya dalam bentuk foto jurnalistik”

 

Dimas juga mengungkapkan tanggapan nya mengenai efisiensi waktu yang dibutuhkan antara skripsi dan karya “Sebenaranya jika dibandingkan rentang waktu pengerjaan skripsi dan pembuatan karya. Jujur pembuatan karya itu lebih sulit dibanding skripsi. Terlepas dari masing - masing pribadi yang mengeksekusi nya. Namun, pembuatan karya tidak hanya menghasilkan karya, kita juga harus riset, perencanaan, brainstorming, dan bahkan ada evaluasi juga kadang – kadang, kita berfokus mengejar hasil yang maksimal bukan sekedar jadi saja” tambahnya.


Kelompok 10

1. Wahit _B50121034

2. Ivan Nugraha Mokodompit_B50121007

3. Meiga Marsela_B50121288

4. Muhammad Aqil Febrizqi_B50121269


 



 

 

Komentar